Puisi Kolaborasi

*Pada suatu kesempatan, iseng-iseng membuka media sosial dan berkenalan dengan seseorang yang mempunyai hobi sama. Akhirnya, kami berinisiasi untuk berkolaborasi. Tak bagus memang. Sebab, puisi bukan pertunjukan panggung semacam menyanyi. Tebak. Dimana kata-kata yang lahir dari rahim sepiku 🙂

Untittled

Rindu diciptakan oleh dua jiwa  yang tak berpenghuni

tapi saling memiliki

Rindu diciptakan dari rusuk adam yang kesepian.

 

Sepi membunuh lembayung rinduku perlahan

Tidak main-main

Sementara kopi diam-diam menghidupkan kembali,

Bukan lain-lain

 

Semesta tahu, bait-bait yang kutulis berasal dari rasa

Merindumu, begitu hangat dan dalam.

 

Merindumu, aku menjadi pejalan buta di rimba kata

Yang menakutkan. Sesat aku dalam sajak-sajak yang kelam

Sesak aku di dada para penyair yang kesepian

 

Waktu seolah mempermainkan kita, dijadikan keduanya

Kita berbeda alinea yang tak seirama, tanpa rima

 

Dan jarak seakan menjauhkan kita dengan jeda. Kita

Dua kata yang ingin bersama. Ditipu jarak yang tak seberapa

 

Dunia tidak perlu tahu ketika hadir meniadakan jauh,

akan kusambut engkau dengan pipi merah merona

pun bibir lembab tak pucat.

 

Dunia boleh tahu aku dan kamu sedang menunaikan rindu

Dengan mata yang basah. Dengan hati yang lelah

Demikian dunia tampak kecil dalam pelukan

Peluk kita

Upaya Memaafkan Keadaan

Bukan sebuah kebetulan saya dilahirkan dalam keluarga yang kekurangan sementara diriku tidak sampai hati menerimanya. Bapak yang kerjanya serabutan sebagai tukang kayu atau bangunan, ibu yang mulanya hanya duduk menunggu bapak pulang kerja, kini harus ikut  bekerja serabutan dengan bayaran tak cukup melunasi hutang, dan lima adik yang masih membutuhkan pendidikan formal di sekolahan. 

Saya anak laki-laki pertama dari enam bersaudara. Tinggal di sebuah desa agak jauh menjangkaunya dari kota. Adik pertama saya perempuan, kini ikut bekerja setelah dua tahun menunggu lamaran dari seorang lelakinya tak kunjung tiba. Sementara kedua, ketiga, keempat masih sekolah. Sedangkan yang kelima ikut dengan nenek. 

Saat ini, dengan terlunta-lunta, waktu yang lama, akhirnya saya telah menyelesaikan studi S 1 di sebuah perguruan tinggi agama di Jogjakarta, pun saya kuliah atas biaya pemerintah. Jika ingin berbangga diri, saya cukup bangga bisa menyelesaikan studi ini. Sebab, bisa dikata saya orang pertama di keluarga besar yang mampu melanjutkan studi hingga jenjang S 1. Namun, yang tidak bisa saya maafkan, hingga saat ini saya belum mampu memberi dampak yang signifikan untuk keluarga.

Tidak mudah memaafkan keadaan. Seperti diri saya yang tidak mampu mengakui kekurangan dalam diri saya. Seperti menumbuhkan kesadaran bahwa saya berasal dari keluarga ‘tak ada’. Seperti diri saya yang kini mulai surut semangat mengejar cita-cita. 

Seringkali dalam keadaan nirdaya, dengan hati yang papa, saya menyerahkan segala yang lalu, yang sedang dan yang akan pada Yang Memegang Alam. Namun, saat itu saya menemukan diri saya sedang duduk bersimpuh dengan mata sembab, dengan baju-baju yang fana, sedang tidak sadar diri. Diri yang tidak sungguh-sungguh menerima dan memberi pada Yang Maha.

Dalam sepi saya berpikir, tak mudah memaafkan keadaan. Menerima kekurangan.

Malam Bersama Kawan

Tanggal 6 September 2016, jam 22.44 saya dan teman saya, namanya Khalil Mukhtar, bersua untuk terakhir kalinya di Cafe Grissee. 

Kami berdua telah berteman lama. Beberapa kali merayakan lebaran bersama di tanah rantau. Jogja. 

Malam itu, menjadi malam terakhir sekaligus perpisahan kita sebab paginya dia harus pulang ke Aceh, kampung halamannya.Tak ada yang mesti dirayakan begitu mewahnya. Kami hanya merayakan perpisahan dengan kopi. Tak lain.

Tulisan Lawas, Isu (Masih) Pantas

(Sebenarnya tulisan ini sudah lahir sejak saya mulai ditinggal kawan-kawan seangkatan yang satu persatu pergi dari tanah Jogja. Kesenggangan dan rasa sedikit kesepian memaksa saya untuk onani perasaan. Tumbuhlah kegelisahan. Lahirlah tulisan ini. Mulanya….)

Hanya saat ini saya unggah lagi karena meski lawas ternyata masih pas pantas dengan kondisi pada saat  itu. Kini kegelisahan saya bukan karena ditinggal kawan-kawan lagi, tetapi saya mempunyai keinginan lain untuk melakukan sesuatu yang berbeda tanpa harus memikul beban yang (rasanya memang) berat. Hanyasaja, dalam prosesnya selalu banyak kendala. Taulah, saya anak sareang dari lima bersaudara. 🙂

Bismillahi majreha wa mursaha…

Dengan menyebut nama Allah, Tuhan Yang Maha dari segala maha, dariNya segala dimulai, kepadaNya segala diakhiri.

Anggap saja tulisan ini semacam bacaan yang tak ingin dibaca, tulisan yang tidak mengharap pembaca. Hanya suara-suara kecil yang lahir dari rahim usia. Yang tumbuh-kembang dalam kelana. Dewasa dalam asuhan jiwa yang tak bosan-bosan merantau-mengembara. Lahir terpaksa dari mulut-mulut lusuh mahasiswa tua.

Yah, akulah suara-suara parau mereka yang gelisah menghitung usia. Wajah-wajah senja yang tak kunjung tenggelam di samudera. Pekat malam di taman-taman kampus yang tak jua pupus. Akulah jiwa yang digelisahkan dan menggelisahkan. Sosok yang telah dianggap momok. Diri yang ‘katanya’tak tahu diri. Peninggalan masa lalu yang tak tahu malu. Akulah, akuilah….

Seberapa banyak ‘aku’ yang masih kerasan menunggu bangku?Wajah-wajah yang membosankan bagi dosen-dosen pengampu. Akulah suara-suara yang lahir dari mahasiswa-mahasiswa prasasti jaman baheula. Yang barangkali ‘masih’ mengharap menjadi sarjana.

Bismillahi tawakkalna, Bismillahi tawassalna, Bismillahi kami Sarjana..

Dengan menyebut nama Allah, Kami pasrah-serah. Dengan menyebut nama Allah, kami menyambung resah-gelisah.

Entah berapa banyak teman yang meninggalkan. Berapa kali perayaan wisuda dilangsungkan. Berapa jutakali melawan pertanyaan yang tak bosan-bosan ditanyakan. Kapan wisuda?Kapan lulus?pertanyaan yang’mungkin’tulus dan membuat sedikit hati layu dan pupus.

Kelulusan demi kelulusan, semua hanyalah kenangan. Menjadi ingatan yang tak ingin dilupakan. Ingatan-ingatan yang seringkali mengundang gelisah datang.

Barangkali akulah suara. Mereka yang tak siap kerja. Mereka yang tak ingin disarjana. Manusia yang lahir dari katanya, katanya. Pendidikan tak mengenal usia. Akulah suara mereka, mahasiswa yang ketuaan. Anak-anak kemalasan dan kesabaran

Hihihi…

Obituari

Kematianku telah dijadwalkan. Takdir hidupku berada diujung senapan. Bersama tahanan-tahanan lain yang telah divonis mati karena keputusan pengadilan telah bulat bahwa namaku masuk dalam daftar sindikat mafia narkoba internasional. Keluarga berkunjung. Agamawan berkunjung. Menenangkan diriku untuk tetap teguh hati dan menerima kematian dengan dada yang lapang. Persetan mereka. Nasehat-nasehat mereka tidak lebih dari sekedar bualan dan basa-basi. Bagiku, mereka tidak lebih menginginkan diriku untuk siap-siap mati.

Dua hari sebelum jadwal eksekusi, aku bersama tahanan-tahanan lain berjibaku siapa yang akan mati lebih dulu. Mengira-ngira wajah kematian datang dengan rupa seperti apa. Mungkin seorang diantara kita ada yang mati mengerang seperti sapi yang baru digorok. Atau seperti suara kucing yang terlindas motor. Atau, mati mendengkur seperti babi yang terhunjam peluru. Dor!!! Sekali tekan, satu nyawa melayang. Yah, kami sedang berjudi. Menghibur diri. Menertawakan nasib sendiri. Pada tembok kusam penjara yang setia menjadi pendengar cerita-cerita kelam para tahanan, aku membuang sedih yang menghunjam dada, meniadakan tangis yang seringkali ingin lahir menjadi bulir-bulir air mata. Tidak ada yang patut dibuat sedih. Hidup sudah terlalu pedih. Semuanya telah dimulai sejak peristiwa malam itu. Saat diriku barusaja pulang dari kantor. Barusaja kuganti celana dengan kolor. Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Dua orang pria berjaket kulit, setengah parlente, berdiri dengan tatapan mata tajam. Dari perawakan dan penampilannya dapat kutebak mereka dari kepolisian.

“Selamat malam!”Kata seseorang bertubuh jangkung.

“Maaf. Dengan siapa dan ada keperluan apa?”

“Kami dari kepolisian, membawa surat penangkapan atas tuduhan penyalahgunaan narkoba.”

“Barangkali anda salah orang.” Kataku sambil membaca surat penangkapan yang mereka berikan.

“Lebih baik anda berikan keterangan di kantor saja.” Lalu mereka menyeretku setjdfljaaaaajengah paksa. Dapat kurasakan tangannya merengkuh pundakku seperti cengkeraman elang. Diiringi tangis istri dan anakku yang melihatku dari pintu belakang.

Tak ada yang mendengar kabar tentang peristiwa malam itu. Tetangga sudah lelap. Hanya beberapa yang terjaga, itupun sedang melaksanakan tugas jadwal ronda. Dari balik kaca mobil kulihat mereka mendatangi rumah, menanyakan sesuatu yang terjadi. Tapi yang mereka terima hanya tangis istri dan anakku yang menjadi-jadi.

Begitulah awal mula, aku bertanya-tanya jika memang kematian tidak bisa diundur atau dimajukan kecuali kehendak tuhan, mengapa begitu gampang direkayasa?

Diketik. Lalu, ditempel. Di papan pengumuman. Nusakambangan.

 

Yogyakarta, 8 Oktober 2015

Menjelang Desember

Bulan keduabelas dalam hitungan jari. Saya melihat seorang kanak sedang berlari-lari mengejar matahari. Di tangan kirinya sehelai kain putih merayakan angin menari-nari.  Tangan kanannya mengacung tinggi hendak menggapai langit yang bakal hujan sebentar lagi. Dari jauh tampak seorang perempuan paruh baya, ibunya, berlari kecil mengejar, memanggil anaknya dengan suara yang menggema-gema. Kuatir malam menculik buah hati pertamanya. Pasukan langit mulai melepaskan panah-panah hujan. Gerimis kecil berhamburan di luas persawahan. Anak laki, kecil, tak mendengar panggilan ibunya. Tubuhnya basah diderai keringat. Lenyap di tengah deru hujan. Hujan yang menyamarkan air mata sang ibu.

Hujan yang menggenang di kelopak mataku. Kini.

 

(Ko)mantan Anyar

images (1)

Dia sedang asik sendiri, mendengar musik atau membuka beranda facebook sesekali. Hari ini tak ada rencana kemana-mana selain menyendiri. Sendiri di kamar. Menyambut sepi. Menunggu sunyi. Kemarin ada rencana ‘nyuci’. Tapi tak jadi. Sebab matahari tampak murung. Hari sudah setengah siang tapi ia tetap saja sembunyi di balik mendung. Suasana kontrakan tak begitu ceria baginya, atau dia saja yang merasa tak bahagia. Beberapa kali keluar kamar hanya untuk buang air kecil atau minum. Teman-temannya seperti tak dihiraukan. Dia butuh pembicaraan. Tapi bukan dengan teman kontrakan, melainkan ‘aku’.

Beberapa kali dia memaksaku menjangkau sesuatu yang tidak bisa kucapai. Sejak tadi malam, dia tidak ingin aku terlelap meski sedetikpun. Baru kali ini aku merasa aku berteman dengan penjajah, penindas, pemerkosa, dan sebutan-sebutan lainnya yan cocok buat dia. Dulu-dulunya dia tak sekejam itu kepadaku. Dia sering mengajakku berbincang, berdiskusi atau sekedar berceloteh saban waktu. Jika aku tak senang dia diam. Kalau aku sudah bosan, biasanya dia memberiku gambar-gambar pemandangan. Tak pernah dia memaksaku untuk memenuhi kemauannya. Tapi kali ini, dia menjelma hantu, kebosanan, kemarahan dan kejelekan-kejelekan yang tak mampu kuungkapkan. Kali ini aku kewalahan. Aku dalam kondisi kelelahan. Akut!
Tapi apalah artinya baginya, sebab dia memandangku sebagai budaknya, bukan lagi temannya. Kalau mau sampai matipun dia tak peduli. Sebab aku dan dia dilahirkan bersama, di rahim yang sama. Aku adalah dia. Dia belum tentu adalah aku. Bagaimana bisa? Sebab ia memiliki aku dan segala yang menempel padanya. Sedang aku hanya bisa [menganggap] memilikinya. Dia terus saja memaksaku bekerja, berjalan, dan menggapai apa yang tak bisa aku capai. Sebab keinginannya begitu sulit diwujudkan. Aku tak bisa. “Kamu harus bisa!” Katanya penuh egois. Harus kuulangi lagi, AKU TAK BISA! Hingga akhirnya, kami berada diujung lelah yang begitu melelahkan. Kami pun lelap tanpa dilelapkan. Terpejam bersamaan.

MATA

Seekor kucing melintas tepat di depan kakiku. Bulunya hitam dan dua matanya menyala seperti dua butir kelereng. Ia meloncat cepat dan mengeong keras.  Hampir saja kutindas kepalanya. Tapi beruntung geraknya cepat.  Hanya aku yang sedikit tergeragap. Hush. Anji……..Eh!!!. Mulutku tak jadi mengumpat. Sepertinya kucing hitam itu baru saja bertengkar dengan kucing lain. Dan Berlalu…

Kontrakan masih sepi. Malam makin hening. Ini bukan kali pertama aku menjadi penghuni terakhir. Tahun lalu bernasib sama. Menyandang status anak pertama dari enam bersaudara bukan perkara mudah untuk mendapatkan uang untuk ongkos pulang. Apalagi dengan beban akademis yang  tak kunjung selesai. Sungguh dilema. Mahasiswa tua, anak seorang  tukang kayu yang bayarannya tak seberapa, harus menyelesaikan akademik dan menjalani kehidupan sehari di perantauan dengan penghasilan yang tak tentu. Hidup hanya soal bertahan dengan harapan-harapan. Harapan segera diwisuda, dapat kerjaan dan yang lebih penting bisa berkumpul bersama keluarga saat lebaran. Ini sepuluh malam terakhir  bulan Ramadlan. Entah berapa Lailatul Qadr yang kudapatkan. Tapi aku tidak pernah merasa dipertemukan. Sepertinya diantara kita masih canggung untuk ketemuan.   Langit cerah, bulan terbelah. Di atas loteng aku menatap mereka dengan hati dan pikiran yang lelah.

Meooowwww!!!!

Bangsat! Hampir saja tubuhku jatuh. Kucing hitam tadi meloncat cepat, tepat di depan wajahku.

Matanya makin menyala. Jauh lebih menyala daripada yang kulihat tadi. Di kegelapan  aku pandangi dia dengan nafas yang tertahan-tahan. Detak jantung masih berdegup cepat karena kedatangan kucing hitam itu yang begitu tiba-tiba. Hanya berjarak satu meter antara aku dan dia. Jika dia memang hendak menyerangku, maka wajahku bisa jadi korban pertama cakaran kukunya yang tajam. Di tanganku sebongkah batu bata siap memecahkan kepalanya. Dan…

Tasssssss….                                                                                                                            

Benar saja. Bongkahan batu itu melayang tepat di kepalanya saat ia mencoba meloncat ke arahku. Kucing hitam itu linglung. Tubuhnya tergeletak tak berdaya. Kakinya makin lama kian lemas. Nafasnya tersengal-sengal lebih cepat dari sebelumnya; saat  ia memandangku dengan kedua matanya yang menyala itu . Tapi mata yang menyala itu perlahan redup saat kulihat dari anak tangga keempat.

Ah. Salahnya melawan manusia. Pikirku. Sambil menarik selimut. Mematikan lampu. Menutup mata yang tak ingin nyala lebih lama juga. Tiba-tiba….

Sesosok tubuh berdiri di balik jendela. Tak jelas tubuh laki-laki atau wanita. Yang jelas ia memegang pedang di tangannya. Wajahnya memakai topeng. Astaga. Ini perampokan. Pikirku. Dengan tangan berkeringat dingin dan seluruh tubuh gemetar. Aku berusaha menahan nafas sebisa mungkin. Sepelan mungkin. Hingga telingaku pun tak mendengar hembusnya. Dan kabar kriminal di televisi pagi tadi hinggap diotakku; sesosok mayat busuk ditemukan dalam keadaan tubuh tanpa kepala. Diduga mayat tersebut adalah korban perampokan. Mayat tersebut ditemukan oleh tetanggganya karena mencium bau menyengat yang  aneh. Tiba-tiba kurasakan, cairan hangat mengalir di sekitar selangkanganku.

Aku mati. Aku mati kali ini. Pikirku.

Dan betul. Sosok besar itu berjalan ke arahku. Berdiri di depan pintu  dengan pedang yang diarahkan kepadaku. Dalam gelap, dengan tubuh yang begitu gemetar dan keberanian yang tersisa aku arahkan pandanganku pada sosok besar yang makin lama makin mendekat. Ada saatnya pasrah pada kematian. Ada yang mesti kau miliki, sesuatu yang berharga sebelum kematian tiba. Dan sesuatu yang berharga bagiku adalah melihat wajah kematianku sendiri. Tiba-tiba, sosok besar itu sudah berdiri tepat di hadapanku. Sebelum pedangnya menghunjam kepalaku. Sebelum ia mencincang tubuhku, kupandangi matanya. Mata yang tak asing. Seperti dua butir kelereng yang menyala-nyala.

Dalam gelap, aku tergeragap.

Jogja, 19 September 2015

Kisah Para Pendatang

Di bawah langit pinggiran kota

mulai senyap

hanya sebentar melepas pengap

esok adalah tangan penuh harap

Malam adalah peraduan nasib yang paripurna

dan jalan adalah ranjang tanpa busa

Meluruskan punggung memangku rindu

yang membumbung pada tanah kampung

“Pada kota kita terlanjur percaya

Pada desa kita berkabar rahasia”

 

Engkau bernyanyi aku bernyanyi

Bersama kita membunuh sepi

Jogjakarta, Mei 2015

Bulan Juli dan Ingatan-ingatan yang membatu

:Nerysdee

Memang tidak ada yang lebih tabah dari bulan juni dengan hujannya, kata Sapardi. Tapi di bulan Juli, kita teteskan air mata menjadi sepi yang abadi. Tak ada rintik rindu yang disembunyikan diantara pohon-pohon berbunga. Hanya ada angin dan letusan Raung yang menggema jauh disana. Mengobarkan bara menjadi larva, meleleh, menyebarkan abu hingga aku tak mampu lagi menyapamu walau sekedar mengerlingkan mata.
Di Bulan Juli kita menjadi kanak-kanak dengan tingkah jenaka. Melipat-lipat kenangan untuk kita lepas, kemudian terbang entah kemana. Kenangan kita menjadi gagu. Dan kita tak sempat menghapus jejak-jejak kaki yang ragu-ragu.
Dan  di tiap  bulan Juli, kita menjadi seekor kupu-kupu yang menunggu rintik rindu diserap akar pohon bunga itu. Mengunjungi cinta yang telah dinisankan atas nama ingatan-ingatan yang membatu.