*Pada suatu kesempatan, iseng-iseng membuka media sosial dan berkenalan dengan seseorang yang mempunyai hobi sama. Akhirnya, kami berinisiasi untuk berkolaborasi. Tak bagus memang. Sebab, puisi bukan pertunjukan panggung semacam menyanyi. Tebak. Dimana kata-kata yang lahir dari rahim sepiku 🙂
Untittled
Rindu diciptakan oleh dua jiwa yang tak berpenghuni
tapi saling memiliki
Rindu diciptakan dari rusuk adam yang kesepian.
Sepi membunuh lembayung rinduku perlahan
Tidak main-main
Sementara kopi diam-diam menghidupkan kembali,
Bukan lain-lain
Semesta tahu, bait-bait yang kutulis berasal dari rasa
Merindumu, begitu hangat dan dalam.
Merindumu, aku menjadi pejalan buta di rimba kata
Yang menakutkan. Sesat aku dalam sajak-sajak yang kelam
Sesak aku di dada para penyair yang kesepian
Waktu seolah mempermainkan kita, dijadikan keduanya
Kita berbeda alinea yang tak seirama, tanpa rima
Dan jarak seakan menjauhkan kita dengan jeda. Kita
Dua kata yang ingin bersama. Ditipu jarak yang tak seberapa
Dunia tidak perlu tahu ketika hadir meniadakan jauh,
akan kusambut engkau dengan pipi merah merona
pun bibir lembab tak pucat.
Dunia boleh tahu aku dan kamu sedang menunaikan rindu
Dengan mata yang basah. Dengan hati yang lelah
Demikian dunia tampak kecil dalam pelukan
Peluk kita

